Eka Rahmawati Beberkan Panduan Praktis Pemulihan Trauma dan Pembongkaran Mitos Kekerasan Seksual
|
KOTA KEDIRI – Pemulihan pasca-kekerasan seksual bukan sekadar penyembuhan fisik, melainkan sebuah proses restorasi psikologis yang panjang dan berlapis. Dalam diskusi daring bersama jajaran Bawaslu, pakar sekaligus komunikator isu gender, Ibu Eka Rahmawati, memaparkan secara komprehensif langkah-langkah pemulihan trauma (healing steps) serta menyerukan pembongkaran mitos-mitos keliru yang masih mengakar di masyarakat.
Melalui pendekatan "A Language For The Unspeakable: Supporting the Survivor", Eka menekankan pentingnya menciptakan komunitas yang aman, suportif, dan bebas dari penghakiman guna membantu perjalanan pemulihan para penyintas.
Dalam salah satu sesi krusialnya, Eka Rahmawati meluruskan beberapa miskonsepsi atau mitos berbahaya yang sering kali memicu budaya menyalahkan korban (victim-blaming):
Karakter Pelaku: Mitos bahwa pelaku perkosaan dapat dikenali dari penampilan atau tingkah lakunya dipatahkan secara tegas. Faktanya, tidak ada cara pasti untuk mengidentifikasi pelaku karena banyak dari mereka yang tampak sepenuhnya normal, ramah, dan menawan.
Penyebab Serangan: Perkosaan adalah kejahatan yang memanfaatkan kesempatan dan kerentanan korban, bukan karena penampilan seksi atau pakaian yang dikenakan korban.
Lokasi dan Relasi: Serangan seksual tidak melulu terjadi di malam hari oleh orang asing di tempat umum. Sebagian besar kasus justru dilakukan oleh orang yang dikenal dan dipercaya (keluarga, teman dekat, guru, atau tetangga) di ruang privat maupun publik.
Kondisi Rentan: Seseorang yang berada di bawah pengaruh alkohol atau narkoba bukan berarti "meminta" untuk diserang. Zat-zat tersebut sering kali justru dijadikan media oleh pelaku untuk membuat korban semakin rentan.
Lima Langkah Strategis Pemulihan (Recovery Steps) bagi Penyintas
Sebagai panduan nyata di dunia medis psikologis, Eka membagikan lima elemen utama aksi pemulihan yang dapat diupayakan oleh penyintas maupun lingkungan terdekatnya:
1. Mengenali Kondisi 'Mati Rasa' (Dissociative Response)
Pasca-trauma, sistem saraf manusia berada dalam kondisi sangat sensitif. Tubuh sering kali mencoba mematikan perasaan secara otomatis untuk menghindari rasa sakit. Eka mengingatkan tanda-tanda mati rasa yang tidak sehat seperti merasa mati rasa fisik, merasa terpisah dari tubuh sendiri (seperti mengamati diri sendiri), hingga pelarian kompulsif menggunakan zat adiktif atau lamunan berlebihan. Penyintas perlu menyadari kondisi ini agar tidak sepenuhnya terputus secara emosional.
2. Menghadapi Kilas Balik (Flashback) dan Memori Sedih
Penyintas diajarkan untuk mengantisipasi pemicu (trigger) seperti suara, bau, pemandangan, atau tanggal peringatan tertentu.
"Saat kilas balik terjadi, terimalah dan yakinkan diri sendiri bahwa ini adalah kilas balik, bukan kenyataan. Peristiwa traumatis telah berakhir dan Anda telah selamat," ujar Eka.
Ia menyarankan teknik pengalihan perhatian (grounding) ke momen masa kini, seperti memperlambat pernapasan, mengetuk atau menyentuh lengan, serta mendeskripsikan tiga hal yang dilihat di sekeliling.
3. Terhubung Kembali dengan Tubuh dan Perasaan
Trauma perkosaan kerap membuat penyintas mengasingkan atau membenci tubuhnya sendiri. Untuk memulihkan rasa aman dan percaya diri, Eka merekomendasikan beberapa latihan fisik terapeutik, meliputi:
Gerakan berirama untuk membantu tubuh rileks.
Meditasi kesadaran (mindfulness) tanpa menghakimi emosi yang muncul.
Olahraga fisik seperti Yoga, Tai Chi, atau Qigong guna meringankan gejala PTSD.
Terapi pijat profesional untuk mengembalikan kenyamanan terhadap sentuhan manusia secara aman.
4. Mengatasi Perasaan Bersalah dan Malu
Perasaan malu dan bersalah sering kali muncul meski kejadian sudah berlalu bertahun-tahun. Eka menegaskan bahwa kondisi freeze (membeku) saat serangan terjadi adalah reaksi syok alami otak, bukan kesalahan korban. Penyintas harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa pelakulah satu-satunya pihak yang bersalah dan harus bertanggung jawab.
5. Menolak Isolasi dan Berani Bercerita
Berdiam diri hanya akan memperkuat posisi korban yang terisolasi. Penyintas didorong untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang peduli, mengikuti aktivitas sosial yang normal, menghubungi teman lama, atau bergabung dengan kelompok dukungan (support group) sesama penyintas.
Prinsip Utama Wawancara Penyintas: Empati Tanpa Paksaan
Di akhir materi, Eka memberikan panduan bagi jajaran lembaga atau pendamping dalam berinteraksi dengan penyintas. Pendamping wajib menunjukkan empati dan validasi penuh tanpa meragukan cerita korban.
"Jika korban terlihat cemas, menangis, atau menutup diri, hentikan pertanyaan segera. Beri jeda dan jangan pernah memaksa korban mengingat detail spesifik jika mereka sedang tidak mampu. Setelah pendampingan awal selesai, arahkan korban ke tenaga profesional seperti bantuan hukum dan psikolog ahli," pungkas Eka menutup pemaparannya.
Apakah Anda ingin menambahkan detail lain terkait bagian pemulihan trauma ini, atau fokus pada tanggapan audiens terhadap materi Ibu Eka?